Allah Menggunting Lidah Engkau

Sejauh ini kita sudah melihat betapa khazanah pantun Minangkabau kaya dengan pantun muda. Kita...

Hujjah Berbalut Sya’ir: Apologetika Tarekat Inyiak Canduang dalam Dawa’ul Qulub

Tercatat dalam lembaran sejarah intelektual Minangkabau awal abad ke-20, perdebatan teologis...

81 Tahun Merdeka: Pertanyaan Tan Malaka yang Belum Terjawab

Setiap 17 Agustus kita mengulang satu peristiwa yang sama, tetapi mestinya tidak dengan pertanyaan...
Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?

Indonesia 81 Tahun Merdeka, Mengapa Gagasan Negaranya Seperti Sedang Mengulang Masa Lalu?

Ada yang terasa lucu dari negeri ini. Kita sudah 81 tahun merdeka, tetapi kadang cara negara berbicara kepada rakyat terdengar seperti Indonesia baru saja keluar dari pintu gerbang kemerdekaan. Pidato tentang kemandirian terdengar berulang-ulang—tentang rakyat harus makan, tentang koperasi, rumah, kebutuhan dasar, hingga kembali kepada kesederhanaan. Semua itu tentu penting. Tetapi ada satu pertanyaan yang agak kurang sopan untuk diajukan: setelah 81 tahun merdeka, kapan kita mulai benar-benar sibuk membicarakan masa depan?

Berkaca Diri: Aturan Dapat Beradaptasi tanpa Pilih Kasih

Berkaca Diri: Aturan Dapat Beradaptasi tanpa Pilih Kasih

Seorang anak gadis melawan kakak laki – lakinya hingga balas membalas. Ucapan terakhir, sampai pada kalimat “Uda selah kawin samo inyo!” (Abang saja yang menikah sama laki – laki itu). Sejak itu pula, gadis paling cantik dikeluarganya dimusuhi. Dia tidak mau dijodohkan, dia tidak mau dikawinkan dengan siapapun kecuali dengan laki–laki pilihannya, dan mereka sepersukuan.

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

yang Ditutup Lubang Tambang, yang Menganga Perut Rakyat

Orang Minangkabau mengenal petuah, “Nan bana tagak, nan salah tagak dibana.” Yang benar harus ditegakkan, yang salah harus dibenarkan. Sebab itu, tidak ada orang waras yang membela tambang emas ilegal. Hukum memang harus berdiri tegak, alam memang harus dijaga, dan kerusakan lingkungan tidak boleh diwariskan kepada anak cucu. Namun, Minangkabau juga mengajarkan bahwa keadilan tidak cukup hanya berdiri di atas aturan, melainkan juga di atas rasa. Sebab dalam adat dikatakan, “Raso dibao naiak, pareso dibao turun.” Segala keputusan mesti ditimbang dengan hati nurani dan akal sehat.

Catatan Kritis untuk Ammar Alwandi: Mengkoreksi Kekeliruan Konten @nusa.angka Terkait Perang Padri dan Memori Kolektif Masyarakat Minangkabau

Catatan Kritis untuk Ammar Alwandi: Mengkoreksi Kekeliruan Konten @nusa.angka Terkait Perang Padri dan Memori Kolektif Masyarakat Minangkabau

Pada 27 Juni 2026, salah seorang konten kreator Instagram yang bernama Ammar Alwandi mengunggah sebuah konten mengenai Perang Padri dengan tajuk “Kenapa masyarakat Minangkabau melupakan Adityawarman”? Pertanyaan itu diklaim disampaikan oleh salah seorang peserta tur museum yang dipandu oleh saudara Alwandi sendiri.